Sebagai pelaku bisnis, selain mengetahui cara menghitung laba bersih, Anda juga perlu tahu kapan tepatnya modal yang dikeluarkan untuk investasi dapat membuahkan keuntungan. Dengan begitu, Anda bisa menilai kelayakan suatu investasi dan membantu Anda mengambil keputusan bisnis dengan lebih terukur.
Nah, salah satu metode yang bisa digunakan untuk memperkirakan waktu pengembalian modal adalah payback period. Lantas, bagaimana rumus dan cara menghitung payback period pada bisnis dengan arus kas tetap dan tidak tetap? Temukan jawaban dan contohnya di bawah ini!
Apa Itu Payback Period?
Payback period adalah jangka waktu yang dibutuhkan bisnis untuk mendapatkan kembali modal awal yang telah dikeluarkan untuk suatu investasi melalui arus kas yang dihasilkan.
Dengan metode perencanaan usaha ini, perusahaan bisa memperkirakan berapa lama waktu yang diperlukan untuk menutup biaya investasi sekaligus membandingkan beberapa pilihan investasi.
Semakin singkat payback period, semakin cepat modal awal dapat kembali. Namun, periode pengembalian yang singkat tidak selalu berarti investasi tersebut paling menguntungkan.
Pasalnya, metode ini tidak memperhitungkan keuntungan yang diperoleh setelah modal kembali maupun nilai waktu uang. Karena itu, payback period sebaiknya digunakan bersama indikator keuangan lainnya untuk menilai kelayakan investasi secara menyeluruh.
Kelebihan dan Kelemahan Payback Period
Mengetahui cara menghitung payback period memang bisa membantu Anda menilai investasi berdasarkan waktu pengembalian modal usaha.
Namun, metode ini juga memiliki keterbatasan yang perlu dipahami agar keputusan bisnis tidak hanya berpatokan pada cepat atau lambatnya modal kembali. Berikut selengkapnya:
Kelebihan Payback Period
Perhitungannya sederhana, karena hanya membandingkan modal awal dan arus kas bersih yang dihasilkan.
Pelaku bisnis bisa mengetahui waktu pengembalian modal, sehingga Anda dapat menyusun perencanaan keuangan bisnis secara lebih terarah.
Jika Anda memiliki beberapa pilihan investasi dengan kondisi yang relatif sebanding, payback period dapat membantu mengidentifikasi proyek yang diperkirakan mengembalikan modal lebih cepat.
Mendukung pengelolaan arus kas dan merencanakan penggunaan dana untuk kebutuhan operasional maupun investasi berikutnya.
Menjadi pertimbangan awal dalam menilai risiko. Sebab, investasi dengan periode pengembalian yang lebih singkat umumnya membuat modal terikat dalam waktu yang lebih pendek.
Membantu menetapkan batas waktu investasi. Jika periode pengembalian melebihi batas tersebut, investasi perlu dievaluasi kembali.
Kekurangan Payback Period
Tidak memperhitungkan nilai waktu uang (time value of money) atau inflasi, karena menganggap nilai uang yang diterima sekarang sama dengan nilai uang yang diterima pada masa mendatang.
Perhitungan hanya berfokus pada arus kas hingga investasi awal berhasil dipulihkan.
Belum mampu menunjukkan keuntungan investasi atau risikonya secara keseluruhan.
Payback period hanya menunjukkan durasi pengembalian modal, bukan besarnya nilai ekonomi yang dihasilkan investasi. Untuk menilai aspek tersebut, Anda dapat menggunakan metode lain, seperti Net Present Value (NPV) atau Internal Rate of Return (IRR).
Baca juga: Strategi Pemasaran: Definisi, Jenis, & Cara Menentukannya
Rumus Payback Period
Secara umum, rumus payback period dapat dibedakan berdasarkan pola arus kas yang dihasilkan investasi, yaitu arus kas tetap dan arus kas tidak tetap. Berikut selengkapnya:
Rumus Payback Period pada Bisnis dengan Arus Kas Tetap
Jika bisnis menghasilkan arus kas bersih dengan jumlah yang sama setiap periode, Anda dapat menggunakan rumus berikut:
Payback Period = Investasi Awal / Arus Kas Bersih per Periode
Keterangan:
Investasi awal: Total modal yang dikeluarkan untuk menjalankan proyek atau membeli aset.
Arus kas bersih per periode (proceeds): Jumlah kas bersih yang dihasilkan investasi setiap periode, misalnya per tahun.
Rumus Payback Period pada Bisnis dengan Arus Kas Tidak Tetap
Berbeda dengan rumus arus kas tetap, pada metode ini, Anda perlu menghitung arus kas secara kumulatif dari satu periode ke periode berikutnya.
Setelah diketahui kapan akumulasi arus kas melampaui atau mencapai investasi awal, sisa modal yang belum kembali dibagi dengan arus kas bersih pada periode berikutnya. Berikut rumus yang dapat digunakan:
Payback Period = n + (a – b) / c × 1 tahun
Keterangan:
n: Jumlah periode penuh terakhir sebelum modal kembali.
a: Total investasi awal.
b: Akumulasi arus kas bersih hingga periode ke-\(n\).
c: Arus kas bersih pada periode berikutnya, yaitu periode saat modal diperkirakan kembali.
Baca juga: Cara Membuat NIB Online agar Usaha Terdaftar Resmi
Contoh Cara Menghitung Payback Period
Untuk memahami cara menghitung payback period, Anda bisa menggunakan ilustrasi bisnis franchise dengan dua kondisi arus kas, yaitu tetap dan tidak tetap.
Catatan: Perhitungan berikut menggunakan asumsi angka untuk mempermudah pemahaman, bukan data aktual dari merek franchise tertentu.
1. Contoh Cara Menghitung Payback Period pada Bisnis Franchise dengan Arus Kas Tetap
Misalnya, Anda membuka bisnis franchise minuman dengan total investasi awal sebesar Rp120 juta. Setelah bisnis beroperasi, franchise tersebut menghasilkan arus kas bersih sebesar Rp30 juta per tahun secara konsisten.
Berdasarkan informasi tersebut, perhitungan payback period dapat dilakukan sebagai berikut.
Diketahui:
Investasi awal: Rp120.000.000
Arus kas bersih per tahun: Rp30.000.000
Rumus:
Payback Period = Investasi Awal / Arus Kas Bersih per Periode
Cara menghitung:
Payback Period = Rp120.000.000 / Rp30.000.00
Payback Period = 4 tahun.
Berdasarkan perhitungan tersebut, bisnis franchise minuman diperkirakan membutuhkan waktu 4 tahun untuk mengembalikan modal awal. Hasil ini berlaku dengan asumsi arus kas bersih tetap Rp30 juta per tahun dan tidak ada perubahan pada investasi awal.
2. Contoh Payback Period pada Bisnis Franchise dengan Arus Kas Tidak Tetap
Selanjutnya, misalnya Anda membuka franchise F&B dengan investasi awal sebesar Rp150 juta. Namun, arus kas bersih yang dihasilkan berbeda setiap tahun karena perubahan jumlah pelanggan, penjualan, dan biaya operasional.
Berikut ilustrasi arus kas bisnis tersebut.

Dari tabel tersebut, akumulasi arus kas mencapai Rp150 juta pada tahun keempat. Artinya, modal awal diperkirakan kembali tepat dalam waktu 4 tahun.
Agar lebih jelas mengenai cara menghitungnya, berikut rumus payback period untuk arus kas tidak tetap:
Payback Period = n + (a – b) / c × 1 tahun
Diketahui:
n = 3 tahun
a = Rp150.000.000
b = Rp100.000.000
c = Rp50.000.000
Perhitungan:
Payback Period = 3 + (Rp150.000.000 – Rp100.000.000) / Rp50.000.000 × 1 tahun
Payback Period = 3 + Rp50.000.000 / Rp50.000.000 × 1 tahun
Payback Period = 4 tahun
Berdasarkan hasil tersebut, payback period bisnis franchise makanan adalah 4 tahun. Pada akhir tahun keempat, akumulasi arus kas bersih sama dengan investasi awal yang dikeluarkan.
Namun, perlu diperhatikan bahwa kedua contoh di atas menggunakan asumsi arus kas bersih yang sudah memperhitungkan biaya operasional. Dalam praktiknya, Anda juga perlu memastikan komponen investasi awal mencakup biaya relevan, seperti franchise fee, peralatan, renovasi tempat, dan modal kerja awal, agar estimasi waktu pengembalian modal lebih realistis.
Jika Anda sudah siap menjalankan bisnis, pastikan untuk memilih peluang franchise yang sesuai dengan modal, target pasar, dan perencanaan keuangan Anda. Salah satu cara untuk menemukan berbagai pilihan usaha sekaligus mendapatkan informasi langsung dari pemilik merek adalah dengan mengunjungi Franchise & License Expo Indonesia (FLEI).
Melalui pameran ini, Anda dapat menjajaki beragam peluang franchise dan lisensi, membandingkan konsep bisnis, serta berdiskusi dengan calon mitra usaha sebelum menentukan pilihan.
Selain bagi calon mitra, FLEI Business Show juga terbuka bagi pemilik bisnis yang ingin memperluas jangkauan pasar. Anda dapat bergabung sebagai exhibitor untuk memperkenalkan brand kepada pengunjung potensial, membangun koneksi, serta membuka peluang kemitraan dan ekspansi usaha.
Tertarik mengeksplorasi peluang bisnis atau ingin membawa brand Anda menjangkau lebih banyak calon mitra? Yuk, kunjungi FLEI Business Show. Untuk mengetahui jadwal pameran berikutnya, Anda juga bisa menghubungi tim FLEI dan mengikuti Instagram @fleiexpoid, ya!
Baca juga: 10 Usaha yang Lagi Viral dan Modalnya Kecil, Yuk Coba!



















